rainbowcanopy
hujan,awan,pelangi,angin,air,ombak,padang rumput,hutan belantara,gunung bukit,rumput,kicau burung,lonceng gereja,kepak lebah, melodi alam...
Tuesday, August 25, 2009
Ada Ilustrasi Bagus Nihh..
Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya. (Matius 7:11)
Cerita Tiga Buah Pohon
Pada suatu ketika adalah tiga buah pohon yang tumbuh di lereng suatu bukit.
Mereka membicarakan harapan dan impian mereka. Pohon yang pertama berkata, “Saya berharap saya akan menjadi suatu kotak harta yang berharga. Saya akan diisi dengan emas, perak dan barang berharga lainnya. Saya akan diukir dengan indah dan setiap orang dapat melihat keindahan saya.”
Kemudian pohon kedua berkata, “Pada suatu ketika saya akan menjadi sebuah kapal yang perkasa. Saya akan membawa para raja dan ratu mengarungi samudera dan berlayar ke ujung dunia. Setiap orang akan merasa aman di dalam diri saya.”
Akhirnya pohon yang ketiga berkata, “Saya ingin tumbuh menjadi pohon yang paling tinggi dan paling tegak di daerah ini. Orang dapat melihat saya di puncak sebuah bukit dan melihat ke cabang-cabang saya, dan berpikir betapa dekatnya saya dengan sorga dan Tuhan hingga bisa meraihnya. Saya akan menjadi pohon yang terbesar sepanjang zaman dan orang akan selalu Ingat akan saya.”
Setelah beberapa tahun mereka berdoa agar impiannya menjadi kenyataan, sekelompok penebang kayu datang ke situ. Ketika salah seorang penebang kayu datang ke pohon yang pertama ia berkata, “Ini tampaknya pohon yang kuat, saya kira saya dapat menjual kayunya pada seorang tukang kayu”. Ia pun mulai menebang pohon itu. Pohon itu merasa bahagia, karena ia merasa tukang kayu itu akan membuatnya menjadi kotak harta yang berharga.
Pada pohon kedua salah seorang penebang kayu berkata, “Ini tampaknya pohon yang kuat, saya tentu bisa menjualnya pada seorang tukang pembuat kapal.”
Pohon kedua juga merasa bahagia karena dengan cara itu ia mengira akan menjadi kapal yang perkasa.
Ketika penebang kayu itu sampai ke pohon yang ketiga, pohon itu merasa cemas karena kalau ia ditebang maka impiannya tak akan menjadi kenyataan. Salah seorang tukang kayu berkata, “Saya tidak memerlukan hal-hal istimewa pada pohon saya, maka saya akan ambil saja pohon Ini,” ia pun menebangnya.
Ketika pohon pertama tiba di tempat tukang kayu, tukang kayu itu membuatnya menjadi kotak makanan untuk hewan. Ia menaruhnya di sebuah kandang dan mengisinya dengan jerami. Pohon itu kecewa, ini sama sekali bukan hal yang dimohonnya dalam doa.
Pohon kedua dipotong-potong dan dijadikan sebuah perahu nelayan yang kecil. Impiannya untuk menjadi sebuah kapal yang perkasa yang membawa para raja haruslah berakhir.
Pohon ketiga dipotong menjadi potongan-potongan yang besar dan ditinggalkan dalam kegelapan.
Tahun-tahun pun berlalu, dan pohon-pohon itu sudah melupakan impian mereka. Pada suatu hari, seorang laki-laki dan perempuan masuk ke kandang dan meletakkan seorang bayi di atas jerami dalam kotak makanan yang dibuat dari pohon yang pertama. Orang laki-laki itu hendak membuat sebuah tempat tidur bayi, dan palungan itu cocok untuknya. Pohon itu pun dapat merasakan pentingnya peristiwa itu dan tahu bahwa ia pernah digunakan untuk menaruh sesuatu yang paling mulia sepanjang segala zaman.
Beberapa tahun kemudian, sekelompok orang menumpang kapal nelayan yang dibuat dari pohon yang kedua. Salah seorang di antaranya lelah dan tertidur. Ketika mereka sedang berada di tengah danau, mereka diterjang badai dan pohon itu merasa tidak cukup kuat melindungi orang-orang itu. Orang-orang itu membangunkan orang yang tertidur itu, dan Ia berdiri dan berkata, “Tenanglah” dan badai pun berhenti. Pada saat itu juga tahulah pohon itu bahwa ia telah membawa Raja dari segala raja di perahu itu.
Akhirnya, datanglah seorang yang mengambil pohon yang ketiga. Kayu itu dibawa sepanjang jalan oleh seseorang dan orang-orang mengolok-olok orang yang membawa kayu itu. Ketika sampai di tujuan, orang itu dipaku pada pohon itu, ditegakkan dan Ia mati di puncak bukit. Ketika Minggu tiba, pohon itu menyadari bahwa ia cukup kuat berdiri di atas bukit itu dan berada sangat dekat dengan Tuhan, karena Yesus telah disalibkan di pohon itu.
Moral dari cerita ini adalah, bila sesuatu tampaknya tidak berjalan sesuai dengan kehendak kita, ketahuilah bahwa Tuhan mempunyai rencana untuk kita. Bila kita menaruh kepercayaan pada Dia, Ia akan memberi kita anugerah besar. Setiap pohon memperoleh hal yang diinginkan, hanya bukan dengan cara yang mereka bayangkan. Kita tidak selalu mengerti rencana Tuhan untuk kita. Kita hanya tahu bahwa caraNya bukan cara kita, tetapi kita tahu bahwa caraNya selalu menjadi yang terbaik bagi kita. Amin.
Monday, August 24, 2009
wild imagination part 1
Kapan hujan berhenti?
Aku tak tahu. Tanyakan saja pada pelangi.
Jadi,aku harus terbang ke langit dan bertanya pada pelangi?Begitu?
Kalau kau bisa, silahkan.
Mengapa harus pelangi?
Yah..mungkin karena dia sahabat hujan.Mengapa kau menanyakan itu?
Karena aku tidak tahu kapan aku harus berhenti menangis.
Maksudmu?
Begitulah. Bila hujan tiba, aku bisa menangis sepuasnya.Aku bisa yakin tak ada yg tau, karena air mataku melebur dengan hujan.
Ah, kau janganlah begitu.Pasti hujan akan ikut sedih mendengarnya.Dan mungkin, dia meminta pelangi, sahabatnya, agar timbul untuk menghibur dan menenangkanmu.
Konyol.
Tidak percaya?coba saja..
ps: just my wild imagination..but Iove it!
Wednesday, April 8, 2009
wild imagination part2
Tentang seorang ksatria yang sedang gelisah
“Apa yang harus kupilih?”, fikirnya.
Dia sedang bingung tentang apa yang ingin dia pilih.
Yang dia utamakan untuk menjadi pilihannya.
Ksatria itu diharuskan untuk menyelesaikan jawabannya sebelum senja.
Apa dia harus memilih pelangi, bila pilihan yang lain adalah matahari.
Apa dia bisa memilih sungai apabila dia disodorkan pula sebuah samudra.
Apa dia sanggup memilih cintanya apabila dia harus mengorbankan nyawanya.
Apa dia mampu memilih sebuah kuda perang apabila akan terjadi sebuah keajaiban yang sangat diharapkannya.
Dan dia sadar, sudah saatnya menentukan pilihan terakhir. Sebelum semuanya terlambat.
Antara pelangi dan matahari.
Ternyata dia memilih pelangi.
Mengapa?
Ksatria itu tahu kalau pelangi tak dapat muncul tanpa cahaya. Cahaya matahari. Jadi, ia memilihnya dan menjadikan ketujuh warna sang pelangi menjadi pedoman hidupnya. Mengartikan warna-warna itu sebagai dinamika kehidupannya. Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, dan Kuning. Semua itu memiliki arti tersendiri.
Antara sungai dan samudra.
Ternyata ia memilih sungai.
Mengapa?
Ksatria menganggap sungai itu sangat indah dengan segala kelokannya. Sedangkan samudra tampak tak berbatas. Lagipula ia berfikir; kalau ada sungai, pasti akan ada samudra. Karena seluruh aliran sungai akan bermuara di laut dan berakhir di samudra.
Antara cintanya dan nyawanya.
Ternyata ia melewatkan dahulu pilihan yang ini dan beralih pada pilihan yang selanjutnya.
Mengapa?
Kau akan tahu nanti.
Antara senjata perang dan keajaiban.
Ternyata ia memilih keajaiban.
Mengapa?
Dan apa yang dia minta?
Senjata perang memang sangat berarti bagi seorang ksatria. Tetapi ia mengesampingkannya. Ia memilih keajaiban, karena keajaiban pasti akan sungguh lebih bermakna baginya. Ya, dia yakin itu. Walaupun hanya ada satu keajaiban saja. Satu keajaiban yang menentukan hidupnya.
Dan apa gerangan yang dia minta?
Ia meminta keajaiban untuk menghilangkan pilihan antara cinta dan nyawanya. Pilihan ketiga. Dan pilihan ketiga pun hilang. Sungguh, ksatria itu sangat ingin berkorban untuk orang yang dicintainya. Walaupun ia mungkin bisa kehilangan nyawanya. Namun ternyata, ia juga berfikir ulang. “Jika aku sudah mati, bagaimana dengan orang yang ku cintai itu? Siapa lagi yang akan melindunginya?.” Oleh sebab itu, sebuah keajaiban merupakan pilihan yang terbaik. Lebih baik daripada senjata perang yang bisa saja musnah.
Setelah selesai memilih, ksatria itu tersenyum bangga. Ia merasa puas. Ia sadar bahwa seorang ksatria bukan hanya kuat dalam arti fisik saja, tetapi harus pula memiliki pemikiran luas dan tajam. Pemikiran yang kuat pula. Ia merasa bahwa ia tidah perlu gelisah lagi karena pilihannya sudah tepat. Ia tidak kehilangan apapun yang sangat ia butuhkan. Ia tidak menyesal akan keputusannya. Itulah yang dilakukan seorang ksatria sejati.
by: Grace D.
Labels: ilustrasi











