wild imagination part2
Tentang seorang ksatria yang sedang gelisah
“Apa yang harus kupilih?”, fikirnya.
Dia sedang bingung tentang apa yang ingin dia pilih.
Yang dia utamakan untuk menjadi pilihannya.
Ksatria itu diharuskan untuk menyelesaikan jawabannya sebelum senja.
Apa dia harus memilih pelangi, bila pilihan yang lain adalah matahari.
Apa dia bisa memilih sungai apabila dia disodorkan pula sebuah samudra.
Apa dia sanggup memilih cintanya apabila dia harus mengorbankan nyawanya.
Apa dia mampu memilih sebuah kuda perang apabila akan terjadi sebuah keajaiban yang sangat diharapkannya.
Dan dia sadar, sudah saatnya menentukan pilihan terakhir. Sebelum semuanya terlambat.
Antara pelangi dan matahari.
Ternyata dia memilih pelangi.
Mengapa?
Ksatria itu tahu kalau pelangi tak dapat muncul tanpa cahaya. Cahaya matahari. Jadi, ia memilihnya dan menjadikan ketujuh warna sang pelangi menjadi pedoman hidupnya. Mengartikan warna-warna itu sebagai dinamika kehidupannya. Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, dan Kuning. Semua itu memiliki arti tersendiri.
Antara sungai dan samudra.
Ternyata ia memilih sungai.
Mengapa?
Ksatria menganggap sungai itu sangat indah dengan segala kelokannya. Sedangkan samudra tampak tak berbatas. Lagipula ia berfikir; kalau ada sungai, pasti akan ada samudra. Karena seluruh aliran sungai akan bermuara di laut dan berakhir di samudra.
Antara cintanya dan nyawanya.
Ternyata ia melewatkan dahulu pilihan yang ini dan beralih pada pilihan yang selanjutnya.
Mengapa?
Kau akan tahu nanti.
Antara senjata perang dan keajaiban.
Ternyata ia memilih keajaiban.
Mengapa?
Dan apa yang dia minta?
Senjata perang memang sangat berarti bagi seorang ksatria. Tetapi ia mengesampingkannya. Ia memilih keajaiban, karena keajaiban pasti akan sungguh lebih bermakna baginya. Ya, dia yakin itu. Walaupun hanya ada satu keajaiban saja. Satu keajaiban yang menentukan hidupnya.
Dan apa gerangan yang dia minta?
Ia meminta keajaiban untuk menghilangkan pilihan antara cinta dan nyawanya. Pilihan ketiga. Dan pilihan ketiga pun hilang. Sungguh, ksatria itu sangat ingin berkorban untuk orang yang dicintainya. Walaupun ia mungkin bisa kehilangan nyawanya. Namun ternyata, ia juga berfikir ulang. “Jika aku sudah mati, bagaimana dengan orang yang ku cintai itu? Siapa lagi yang akan melindunginya?.” Oleh sebab itu, sebuah keajaiban merupakan pilihan yang terbaik. Lebih baik daripada senjata perang yang bisa saja musnah.
Setelah selesai memilih, ksatria itu tersenyum bangga. Ia merasa puas. Ia sadar bahwa seorang ksatria bukan hanya kuat dalam arti fisik saja, tetapi harus pula memiliki pemikiran luas dan tajam. Pemikiran yang kuat pula. Ia merasa bahwa ia tidah perlu gelisah lagi karena pilihannya sudah tepat. Ia tidak kehilangan apapun yang sangat ia butuhkan. Ia tidak menyesal akan keputusannya. Itulah yang dilakukan seorang ksatria sejati.
by: Grace D.
Labels: ilustrasi

